Mei 26, 2021 equity crowdfunding

Sekilas Tentang Equity Crowdfunding dan Cara Kerjanya

Equity crowdfunding dimulai dari Undang-undang JOBS (Jumpstart Our Business Startup) di Amerika, atau jika anda berada di Indonesia, POJK (Peraturan Otoritas Jasa Keuangan) Nomor 37 / POJK 04/ 208 yang membahas tentang Layanan pembelian dana melalui penawaran saham yang memiliki basis Teknologi Informasi atau Equity Crowdfunding yang nantinya memberi kesempatan bagi warga Negara dan juga memberi peluang besar pada pebisnis.

Adanya UU yang membahas tentang urun dana atau equity crowdfunding ini menciptakan peluang bagi para perusahaan pemula untuk mengumpulkan modal yang sangat dibutuhkan dengan cara  menggunakan platform crowdfunding Indonesia. Perlu anda ketahui, bahwa pada dasarnya UU JOBS / POJK No 37 telah memudahkan para perusahaan pemula untuk mengelola modal dengan memodifikasi batasannya.

Kenapa Harus Ada Crowdfunding / Urun Dana

Alasan pertama yang mendasar ialah karena Usaha Kecil Menengah (UKM) yang memang berada dalam dunia bisnis, nantinya memberi pengaruh yang sangat besar kepada negara, namun kebanyakan masyarakat (yang tidak memiliki akreditasi) tidak dapat melakukan investasi UKM sebelum mekanisme equity crowdfunding diakomodasi di dalam undang-undang.

Dengan berlakunya equity crowdfunding melalui peraturan undang-undang (POJK 37/Jobs Act) maka diharapkan dapat membuka peluang bisnis dan juga beberapa lapangan kerja yang nantinya dapat memberi kesejahteraan dalam dunia ekonomi.

Berhubung dengan sumber pemodalan yang baru, sesuai data di USA, dari 318,9 juta masyarakat USA, 233,7 juta merupakan investor TIDAK terakreditasi, dan hanya 3,5 juta investor terakreditasi. Aturan equity crowfunding ini diharapkan memberi pemodalan baru bagi para pengusaha UKM 233,7 juta ini. (Sumber)

Mekanisme Urun Dana / Equity Crowdfunding

Misalnya di kampanye urun dana ini, perusahaan / startup penerbit ingin melakukan penggalangan dana sebesar Rp. 400 juta.

  • “Crowd investor” atau “pemodal” memberi keputusan untuk melakukan investasi dan juga melakukan deposit di portal penyelenggara equity crowdfunding.
  • Dana tersebut digunakan sebagai fundraising dengan cara yang tradisional, sesuai dengan yang dibutuhkan .
  • Para pemodal / investor akan mendapatkan % ownership pada perusahaan penerbit.
  • Para perusahaan tersebut yang menyediakan dana akan meneruskan dana tersebut pada para perusahaan pemula.

Namun perlu diketahui bahwa equity crowdfunding juga dapat berubah menadi hal yang sangat beresiko. Dan diantara riseko yang disebabkan oleh jenis bisnis ini adalah sebagai berikut :

Banyaknya bisnis pemula yang terancam tutup. Hal ini juga dapat membuat anda mengalami hal yang sama, dan merupakan risiko yang besar.

Beberapa jaminan pengembalian anda tidak dapat dikembali secara pasti. Saham yang anda berikan dalam hasil urun dana kemungkinan besar tidak akan naik, namun turun dan Anda kemungkinan besar tidak mendapatkan pembayaran dividen (sebagai sharing profit) karena perusahaan berumur muda (apalagi jika technology) biasanya tidak memiliki profit atau menginvestasikan profit ke bisnis mereka kembali.

Kemungkinan sulit menjual saham Anda karena saham ini biasanya tidak di-listing, artinya Anda tidak mudah untuk menjual kembali saham Anda seperti layaknya saham perusahaan besar di pasar saham.

Anda dapat menyimak peraturannya sebagai berikut ini: Peraturan OJK Pasal 32 :Pasar Sekunder Pasal 32 (1) Penyelenggara dapat menyediakan sistem bagi Pemodal untuk memperdagangkan saham Penerbit yang telah dijual melalui Layanan Urun Dana yang diselenggarakannya. (2) Perdagangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat dilakukan antar sesama Pemodal yang terdaftar pada Penyelenggara. (3) Sistem sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat: a. menyediakan harga wajar sebagai referensi penjual dan pembeli; dan b. menyediakan sistem komunikasi bagi Pengguna yang dapat digunakan sebagai sarana komunikasi antar Pengguna untuk membeli atau menjual saham.

Namun POJK nomor 37 tentang equity crowdfunding / urun dana juga mengatur tentan adanya pasar sekunder supaya para pemodal bisa saling memperjualbelikan saham yang dibeli dari equity crowdfunding.

Di-tag pada:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *